Pengalaman Seleksi PPG Prajabatan Bersubsidi 2017 Bagian 3; Seleksi Bakat dan Minat

Halo... maaf telat banget postingnya. Agenda pulang kampung memang selalu bikin urusan yang melibatkan koneksi internet jadi berantakan semua.

Pada seleksi PPG Prajabatan tahun lalu, seleksi bakat-minat dilaksanakan dalam dua hari, dibagi dalam sesi-sesi tertentu yang pembagiannya di-publish di situs web milik LPTK penyelenggara seleksi. Karena saya dulu memilih lokasi tes di UM, jadi ketika seleksi bakat-minat, saya pun kebagian di UM juga. Waktu itu bahkan pengumuman pembagian sesi tesnya di-publish lumayan mepet dengan tanggal pelaksanaan, membuat beberapa orang jadi kalang-kabut.

Waktu itu, saya bersyukur banget karena kebagian jatah seleksi bakat-minat untuk sesi pertama pada hari kedua. Saya jadi punya kesempatan untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya dari beberapa teman saya yang ikut seleksi hari pertama karena jujur saja saya betul-betul tidak punya petunjuk apa pun tentang materi seleksi. Dari informasi yang sempat saya baca di website dKampus pun (silakan gugling sendiri), saya masih kesulitan membayangkan akan seperti apa pelaksanaan tesnya. Di website itu hanya tertulis bahwa tesnya akan dilaksanakan dalam bentuk wawancara dan Focus Group Discussion (FGD) dengan materi seputar landasan yuridis tentang guru serta kemampuan-kemampuan pokok yang harus dimiliki guru profesional, seperti kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, sosial, dan kawan-kawannya itu.

Oke. Bagian ini bisa dipelajari sendiri, ya. Saya mau cerita tentang pelaksanaan tesnya saja.

Tahun lalu, ada informasi tambahan bahwa peserta dari sesi berapa pun wajib mengikuti upacara pembukaan yang dilaksanakan sebelum tes sesi pertama. Saya pun akhirnya berangkat pukul tujuh pagi, agak terlalu awal kalau dipikir-pikir, mengingat saya sudah tahu betul lokasi tesnya.

Upacara pembukaannya sendiri selesai dengan cepat, dan saat itu tampaknya tidak masalah kalaupun peserta terpaksa tidak bisa hadir. Entah kalau tahun ini, ya.

Setelah upacara pembukaan selesai, peserta seleksi dipersilakan menuju ruangan-ruangan tertentu sesuai dengan plotting yang telah diunggah di website. Karena saya kebagian sesi pertama, jadi setelah upacara pembukaan selesai saya langsung mengikuti tes bakat-minat sementara peserta dari sesi-sesi berikutnya diperbolehkan menunggu maupun pulang dulu sampai waktunya tiba.

Sebelum masuk ruangan, kami diminta untuk menunjukkan kelengkapan berkas seleksi, termasuk SKCK, Surat Keterangan Sehat, dan lain-lainnya itu untuk diperiksa oleh petugas. Waktu itu, surat-surat seperti SKCK dan lain-lainnya itu dikumpulkan, sehingga sebaiknya Anda menyiapkan fotokopinya sebagai arsip pribadi.

Sampai di dalam ruangan, saya dan empat peserta lain dipersilakan duduk di hadapan dua orang penilai, terdiri dari satu orang dosen matematika UM—yang kebetulan belum pernah mengajar saya—dan kalau tidak salah, satu orang perwakilan LP3 UM. Secara bergantian, kami diminta untuk memperkenalkan diri sambil berdiri di dekat sebuah papan tulis. Di ruangan kami waktu itu memang ada papan tulis dan setelah memperkenalkan diri, saya langsung disuruh untuk melakukan microteaching selama lima menit.

Sialnya, saya adalah peserta dengan nomor urut terkecil sehingga mau-tidak mau saya harus maju pertama kali. Untungnya, saya sudah sempat bertanya kepada kawan yang mengikuti seleksi pada hari pertama, sehingga saya tidak terlalu kaget meski diminta melakukan microteaching dadakan.

Yah, bukan dadakan juga sih namanya, karena malam sebelumnya saya sudah mempersiapkan materi seandainya saya diminta untuk melakukan microteaching. Dari dua orang kawan yang saya “interogasi” setelah mengikuti seleksi bakat-minat pada hari pertama, saya tahu bahwa satu dari mereka diminta untuk melakukan microteaching, sementara satunya tidak. Jadi, sebaiknya, persiapkan saja materi tertentu untuk jaga-jaga.

Ngomong-ngomong, dua kawan saya ini tidak berada dalam satu ruangan saat seleksi bakat-minat, jadi sepertinya takdir microteaching-atau-tidak itu tergantung dari tim penilai di masing-masing ruangan. Salah satu kawan saya itu juga ditanya-tanyai seputar landasan yuridis tentang guru, entah Undang-Undang tahun berapa itu... saya sudah lupa. Sementara kawan saya yang satunya murni ditanya-tanya tentang hal-hal yang bisa dijawab tanpa harus belajar dulu.

Oke, kembali ke seleksi bakat-minat versi saya.

Waktu itu, saya mempersiapkan materi aljabar untuk kelas tujuh, memanfaatkan skenario pembelajaran “yang bisa bikin murid kepo” yang pernah saya susun bersama teman sekelompok pada matakuliah Model-Model Pembelajaran Matematika di semester enam. Dalam lima menit microteaching itu, saya memainkan peran sebagai guru yang merangkap sebagai “tukang sulap”. Saya meminta empat orang peserta didik saya—empat peserta seleksi bakat-minat yang sebetulnya malah lebih dewasa dari saya itu—untuk membuka kalender di ponsel, lalu saya minta mereka untuk memilih—dalam hati—empat bilangan yang di kalender itu membentuk bangun persegi. Saya kemudian minta mereka menyebutkan jumlah empat bilangan itu, sedangkan saya akan “menebak” keempat bilangan yang tadi mereka simpan dalam hati.

Dalam keadaan normal, siswa kelas tujuh akan melongo melihat pertunjukan sulap kecil-kecilan ini dan saat itulah, saya bilang bahwa mereka akan bisa melakukan “sulap” itu setelah belajar materi matematika bab blablabla.

Jujur saja, saya tidak tahu kualitas mengajar seperti apa yang diharapkan dari tim penilai, tapi saya berusaha menunjukkan bahwa saya punya keinginan untuk terus belajar menjadi guru yang baik dan kreatif. Empat peserta seleksi yang maju setelah saya pun ternyata menggunakan metode ceramah saja, membuat saya sedikit was-was karena menampilkan sesuatu yang berbeda. Tapi mau bagaimana lagi, sudah nasib saya sih kebagian maju pertama kali.

Oh, ya. Menurut saya, sebaiknya pilih materi yang cenderung “aman-aman saja”. Saya agak lupa seperti apa detailnya, tapi salah satu peserta seleksi sempat membuat kesalahan saat menjelaskan, berkaitan dengan domain fungsi kalau tidak salah. Saat itu juga, sekilas saya lihat raut salah satu dari tim penilai tampak agak berubah, kemudian saya dan peserta yang lain saling pandang, dan saya juga langsung deg-degan parah mengira peserta itu akan langsung “dibantai” di tempat, mengingat biasanya orang matematika nyaris tidak punya toleransi sekecil apa pun kalau berkaitan dengan konsep dan kawan-kawannya itu.

Untungnya, peserta itu tidak diapa-apakan.

Setelah kami semua melakukan microteaching, masih ada sisa waktu setengah jam sebelum sesi berakhir dan kami diberi beberapa pertanyaan untuk didiskusikan bersama, berkisar pada pertanyaan tentang tantangan pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia. Seingat saya ada tujuh pertanyaan dan tidak harus dijawab satu per satu secara berurutan. Kami dipersilakan berdiskusi dengan bebas sementara dua orang tim penilai hanya mengamati sambil sesekali berkomentar apabila diskusi kami sudah agak melenceng ke mana-mana. Tim penilai juga sesekali melempar candaan, seperti ketika saya bercerita tentang pengalaman mengajar anak-anak di lembaga pemasyarakatan, salah satu dari tim penilai itu menanyai saya seolah memastikan bahwa saya hanya mengajar di sana dan bukannya menjadi penghuni lapas.

Satu hal yang saya ingat betul, di akhir sesi, salah satu tim penilai berkata bahwa sebenarnya dari awal, mereka tidak ingin jawaban macam-macam dari kami. Bapak tersebut kemudian berkata bahwa, ketika diskusi sampai pada topik tentang langkah apa yang harus dilakukan untuk mengatasi kualitas buruk pendidikan di daerah-daerah terpencil, mereka hanya ingin “kesediaan” kami untuk menjadi eksekutor utama tanpa perlu membahas kebijakan pemerintah, infrastruktur, dan lain-lainnya. Mereka hanya ingin pernyataan semacam, “Kita-kita inilah yang seharusnya terjun langsung ke daerah-daerah tersebut.”

Waktu itu saya langsung speechless, baru menyadari bahwa saya tidak bisa menangkap apa yang diinginkan tim penilai dan bahwa diskusi kami sepertinya terlalu “jauh”. Betewe, sekali lagi saya katakan, ini cuma pengalaman saya, ya. Bisa jadi di ruangan lain, yang terjadi malah berbeda jauh dengan yang saya alami.

Kemudian, sebelum sesi diakhiri, tim penilai akhirnya menanyai kami satu per satu, “Apakah Anda siap ditempatkan di mana pun di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia?”

Komentar

  1. terimakasih atas share pengalamanya, sangat bermanfaat jadi ada sedikit gambaran untuk besok...

    BalasHapus
  2. Terimakasih banyak teh bermanfaat banget infonya 😊

    BalasHapus
  3. Kak, mau tanya, klo udh lulus PPG itu ditempatkan di seluruh Indonesia ya? Bukan di daerah asal?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, maaf belum ada info lebih lanjut tentang hal ini...

      Hapus
  4. terima kasih kakak sharingnya... bermanfaat sekali. kebetulan saya juga matematika. terima kasih kakak. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat bagi kakak. Aamiin

    BalasHapus
  5. Terimakasih Kak. Kak apa dlu jg ditnya mengenai undang2 Sma peraturan pemerintah tentng guru Kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada yang ditanya, ada yang enggak. Di ruangan saya dulu nggak ditanya. Temen saya di ruang lain ada yang ditanyai itu juga.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Pengimuman jadwal hari Dan sesi tes bakat minatnya nanti dimna y Kak. Apa di SMS Dr pihak kampus atau di web?.

      Hapus
    4. Maaf. Membantu menjawab pertanyaan di atas. Setahu saya, informasi terkait jadwal dan ruangan tes diumumkan di laman masing-masing lptk penyelenggara. Untuk informasi terkait hal ini juga bisa menghubungi contact person admin masing-masing lptk yang tertera di kartu peserta tes bakat, minat, dan kepribadian. Terima kasih.

      Hapus
    5. Pke terimakasih Kak. Ini baru saja di upload pembagian waktu tesnya.

      Hapus
    6. Maksudnya 'pke terimakasih Kak' bagaimana? Syukurlah kalau begitu.

      Hapus
    7. Oh mungkin maksudnya 'Oke terima kasih kak' ya. Baiklah, sama-sama :)

      Hapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Kak, yang ikut seleksi minst bakat masih ada yang gugur ga?

    BalasHapus
  8. kak dulu pengumuman hasil seleksi BMK molor enggak kak? Ini udah molor 2 minggu lebih dari jadwalnya kok belum pengumuman yaa

    BalasHapus
  9. Kuliahnya itu full sehari penuh atau gmn??

    BalasHapus
  10. Ada yang lolos ditempatkan di universitas sanata dharma enggak ya

    BalasHapus
  11. Registrasi online'y itu gimana ya mb. Buka di link apa. Soalnya ini ko di dashbord cuma pengumuman terua disuruh milih bersedia apa mengundurkan diri. Mohon infonya ya mbak/mas.
    Thank you

    BalasHapus
  12. Untuk registrasi online tinggal diklik saja salah satu pernyataan yg tersedia di kolom warna hijau atau merah, mbak.

    BalasHapus

Posting Komentar