Ketika Seorang Agen Rahasia dan Targetnya Saling Jatuh Cinta... (Resensi “Mission D’Amour” – Francisca Todi)





Judul: Mission D’Amour
Penulis: Francisca Todi
Jenis Buku: Novel
Genre: Romance, Metropop, Young-Adult
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Tebal Buku: 367 halaman

Blurb:
Kehidupan Tara Asten sebagai asisten pribadi Putri Viola—Putri Mahkota Kerajaan Alerva yang supersibuk—selalu penuh tantangan. Namun, Tara tidak pernah menyangka Badan Intelijen Alerva (BIA) akan menjadikannya tersangka utama dalam rencana penyerangan keluarga kerajaan. Dia dimasukkan ke masa percobaan tiga bulan, pekerjaannya terancam tamat.
BIA menugaskan salah satu agen rahasianya, Bastian von Staudt, alias Sebastian Marschall, untuk menyamar menjadi calon pengganti Tara dan menyelidiki wanita itu. Tapi di tengah perjalanan misinya, dia malah jatuh hati pada kepribadian lugu Tara. Bukannya mencari kesalahan Tara, Sebastian malah beberapa kali menolongnya.
Tara yang awalnya membenci pria itu, mulai bimbang dengan perasaannya. Sebastian pun mulai kesulitan mempertahankan penyamarannya.
Tapi, itu sebelum Sebastian mendengar percakapan mencurigakan Tara di telepon. Yang membawa Sebastian pada dua pilihan sulit: misi atau hatinya.


***

Sejak menerima buku ini sebagai hadiah ulang tahun bulan lalu, saya baru betulan membacanya di tengah agenda sana-sini khas lebaran. Awalnya saya kurang tertarik, karena kalimat pertama di blurb-nya membuat saya maju-mundur untuk melanjutkan membaca—saya bukan pencinta kisah princess-princess-an, soalnya.
Tapi ternyata saya salah duga. Novel ini sama sekali tidak menyuguhkan kisah princess-princess-an. Latarnya zaman modern kok, bukan abad baheula.
Kalau Anda membaca blurb-nya lebih lanjut, Anda akan mendapatkan informasi bahwa isi ceritanya adalah tentang seorang agen rahasia yang jatuh cinta pada targetnya. Begitu? Ya, benar. Hanya saja, menurut saya, blurb-nya kurang mewakili isi cerita yang sesungguhnya. Dalam Mission D’Amour ini, ada beberapa bagian penting yang tidak disinggung sedikit pun dalam blurb, termasuk tokoh kunci yang menyebabkan Tara dijadikan tersangka rencana penyerangan keluarga kerajaan dan apa yang dilakukan Bastian untuk membuktikan bahwa Tara—yang belakangan ia cintai—tidak bersalah sama sekali.
Mengenai gaya penulisan, saya tidak bisa bicara banyak. Menggunakan sudut pandang orang pertama secara bergantian antara Tara dan Bastian, saya tidak menemukan hal yang kurang mengenakkan. Francisca Todi begitu lihai membedakan cara berpikir kedua tokoh sentral tersebut. Meskipun selama ini saya jarang bisa menikmati novel yang ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama, tapi Mission D’Amour adalah satu dari sekian dikit novel dengan subjek “aku” yang berhasil membuat saya puas.
Tara diceritakan lugu, isi pikirannya juga lugu.
Lalu Bastian... yang seorang agen rahasia, pikirannya juga “laki” sekali. Saya suka. Tentang bagaimana mereka saling jatuh cinta, saya rasa juga tidak perlu dibahas karena rasanya sudah smooth dan... manis sekali. Penulis membangun chemistry secara perlahan-lahan tapi tidak membosankan—apalagi pemilihan kata-katanya... menurut saya... sempurna.
Oh ya, ini mungkin preferensi pribadi sih, tapi saya memang kurang bisa menikmati tulisan yang disajikan dengan gaya terlalu pop maupun terlalu “nyastra”, dan Mission D’Amour mengambil celah yang tepat untuk membuat saya betah membaca satu baris, lalu baris berikutnya, dan berikutnya lagi sampai halaman terakhir. Jadi, kalau Anda punya preferensi yang sama dengan saya, maka novel ini cocok sekali Anda baca.
Satu hal yang agak mengganggu saya adalah kurang dieksplormya karakter dua wanita bernama Danni dan Louisa—yang tadi sudah saya sebut merupakan tokoh kunci. Maksud saya begini, di dalam novel ini ada unsur-unsur misteri yang harus dipecahkan, tapi tokoh-tokoh yang punya andil besar dalam misteri tersebut tidak banyak dibahas di bagian awal seolah mereka hanya figuran. Danni-nya sih lumayan, tapi Louisa-nya nyaris tidak ada petunjuk dan ujug-ujug di bagian akhir dia membawa sebuah fakta mengejutkan.
Gampangnya, sedikit sekali bagian yang membuat saya berpikir, “Jangan-jangan si anu ini begini...” atau “Wah, kayaknya si ono deh yang ngelakuin...” padahal pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang—masih menurut saya—merupakan daya tarik utama yang mengikat pembaca.
Ada juga bagian yang saya yakin sebetulnya bisa dibikin lebih greget, yaitu adegan-adegan singkat berbau laga. Membaca bagian-bagian itu, saya merasa... biasa saja. Tidak tegang. Tidak khawatir. Tidak bertanya-tanya apa yang akan terjadi setelah ini, seolah otak saya secara spontan bilang, “Alah, it’s gonna be okay, kok.
Semacam itu.
Tapi tetap saja... secara keseluruhan—terutama ditinjau dari gaya penulisannya—Mission D’Amour sangat layak dibaca, terutama buat Anda yang menyukai kisah romansa yang tidak biasa.

Komentar