(Semacam) Resensi Buku Out of The Truck Box - Iqbal Aji Daryono



Judul buku : Out of The Truck Box
Penulis : Iqbal Aji Daryono
Penerbit : Giga Pustaka
Tahun terbit : 2015, Mei (Cetakan Pertama)

Fiuh...

Setelah sekian lama ngidam membaca buku ini, akhirnya sekitar tiga minggu yang lalu keinginan itu terwujud juga. Tepatnya setelah pikir panjang sambil mondar-mandir di Gramedia—tahu sendiri lah ya, bagi mahasiswa semacam saya ini menyisihkan anggaran untuk beli buku keluaran baru tergolong prioritas yang perlu dipertimbangkan matang-matang, hahaha.

Kalau boleh jujur, saya sebenarnya sudah ingin sekali membaca buku ini sejak diluncurkan beberapa bulan yang lalu, tapi demi kesejahteraan bersama, saya masih berusaha bersabar menunggu kalau-kalau ada kawan dekat yang beli sehingga saya bisa pinjam. Patut Anda ketahui (lagi), saya tergolong tipe orang yang percaya bahwa mengapresiasi nggak harus membeli, at least selama saya belum bisa cari duit sendiri.

Sayangnya, sampai tiga minggu yang lalu belum ada satu pun orang di sekitar saya yang beli, lalu saya nggak tahan lagi dan... ya, akhirnya saya beli sendiri buku ini.

Karena itulah, pertama-tama saya mau ngucapin selamat untuk Pak Iqbal Aji Daryono yang bukunya berhasil menarik perhatian saya untuk beli. Nah, kan, belum apa-apa aja udah dapat satu poin plus dari saya.

Pokoknya selamat!

Oke. Fokus ke bukunya.

Kalau Anda seperti saya—cukup mengikuti “sepak terjang” Pak Iqbal di jagad nyinyir dunia maya—saya yakin Anda akan penasaran setengah mati tentang isi buku ini. Saya juga begitu, dan saya jamin buku ini akan menjawab hampir semua rasa penasaran Anda.

Sependek pengamatan saya—ini diksinya Pak Iqbal—satu hal yang jadi daya tarik utama buku ini adalah tagline-nya yang cetar membahana:

Petualangan Seorang TKI Sopir Truk di Australia dan Lamunan-lamunan Liarnya.

Ini menarik sekali. Dulu saya selalu bertanya-tanya, ngapain orang ini di Australia dan kelihatan bangga sekali dengan status sopir truk-nya. Agak nggak lazim, menurut saya. Kenapa? Karena Australia itu... semacam... bukan negeri yang pas jadi tujuan TKI.

Selama ini pun saya sudah mencoba mencari jawabannya lewat sumber-sumber umum yang ada di internet, tapi sebagai seleb dunia maya, informasi tentang Pak Iqbal nggak cukup memadai. Barangkali itu juga yang akhirnya memancing ketertarikan saya untuk beli bukunya.

Jadi, kalau saya boleh usul, Pak, tolong Pak Iqbal bikin postingan apa gitu yang isinya biodata lengkap, termasuk makanan favorit, minuman favorit, warna favorit, idola dan kata mutiara ala anak-anak 90-an. Terus terang saja, Pak, banyak yang kepo, soalnya. Hehehe.

Sudah. Balik ke topik ya.

Diawali dengan beberapa endorsement yang begitu menggoda, saya mampu baca buku Out of The Truck Box sampai khatam hanya dalam sekali duduk, mengabaikan teman sekamar saya yang beberapa kali minta lampu kamar dimatiin karena dia sudah teler kebanyakan praktikum.

Tentang isi buku ini, jangan ditanya lagi. Khas Pak Iqbal banget. Yang diomongkan sebenarnya “berat”, tapi kemasannya ringan. Mulai dari pengalaman-pengalaman Pak Iqbal selama di Australia, suka-duka yang dialami dengan rekan-rekan kerja, hingga diskusi tentang Taliban dan imigran-imigran gelap pencari suaka. Ada juga beberapa kisah manis Pak Iqbal dengan Hayun putri tercinta, lengkap dengan karya-karya Hayun yang diabadikan dengan apik dalam bentuk foto. Ckckck, memang banci foto sejati. Hahaha.

Setiap memasuki awal bab, ada sesuatu yang akan membuat Anda mengerutkan kening lalu memutuskan untuk terus membaca. Coba, apa yang Anda pikirkan begitu membaca judul “Negeri Tanpa Ekspresi”, ”Minder Inlander”, atau “Orang Reseh Disayang Tuhan”?

Saya sendiri sempat dibuat begitu terkesan saat membaca bab “SIM dan Husnuzon ala Ostralia”. Pada bab ini dicantumkan kisah seorang kawan Pak Iqbal yang berhasil mengakali polisi Australia saat ada pemeriksaan di jalan. Kisah itu sukses membuat saya nyengir lalu ngakak beberapa saat dan pada akhirnya kisah itu malah saya sebarkan ke beberapa kawan, yang tanggapannya juga nyaris seragam: nyengir, ngakak, bercampur takjub. Anda harus baca sendiri kalau mau tahu segokil apa isinya.

Praktis hanya ada satu hal yang membuat saya sedikit terganggu—sebentar, saya perlu sungkem dulu ke para penggemar Pak Iqbal garis keras, saya fans garis empuk, ngomong-ngomong. Rasanya ada yang berbeda saat membaca tulisan-tulisan tertentu di buku Out of The Truck Box dengan postingan-postingan pendek Pak Iqbal di MojokDotCo atau di blog mabukbahasa yang setahu saya juga milik Pak Iqbal meskipun sudah lama tidak diapdet. CMIIW ya, Pak Iqbal.

Menurut saya—masih menurut saya lho ya—beberapa tulisan tertentu (sekali lagi, hanya beberapa tulisan tertentu) di buku ini terkesan terburu-buru, ehm... semacam... entah kenapa saya membayangkan perbedaan hasil kerjaan saya sendiri ketika saya selesaikan saat punya banyak waktu dengan ketika hasil kerjaan itu harus dikumpulkan besok pagi dan saya baru mulai mengerjakan malam hari sebelumnya. Hahaha.

Sekali lagi ini cuma pendapat saya lho.

Tapi secara umum, setiap bab di buku Out of The Truck Box ini sistematikanya sama menariknya, diawali dengan semacam cerita yang ringan, lalu disimpulkan di bagian akhir dengan pemikiran Pak Iqbal yang out of the truck box itu. Kalau Anda mahasiswa prodi pendidikan matematika yang udah bosan bikin RPP tiap hari, gaya penulisan masing-masing bab di buku ini bisa diibaratkan pembelajaran kontekstual: mengawali materi pembelajaran dengan kasus-kasus yang ada di kehidupan sehari-hari.

Oke. Abaikan kalimat terakhir.

Di bagian epilog, ada cuap-cuap dari Pak Iqbal yang diberi judul “Begitulah”. Intinya, Pak Iqbal berharap siapa pun yang membaca bukunya bersedia untuk mengambil hape, lalu memotret buku tersebut dan mengunggahnya ke Facebook atau Twitter beserta kesan, pesan, atau apa pun yang Anda rasakan.

Nah, saya sudah membaca, tapi masalahnya kamera hape saya sudah terlalu rabun untuk memotret akibat hapenya terlalu sering tergores maupun jatuh. Jadi, kalau Anda membaca postingan ini tanpa menemukan foto, itu artinya saya belum menemukan orang baik yang bersedia saya nunuti slot penyimpanannya dengan barang tiga atau empat MB foto titipan saya. Sebaliknya, kalau Anda menemukan foto pada postingan ini, artinya Anda beruntung karena saya sudah bertemu orang baik itu dan jangan heran karena isi postingannya tidak akan saya sunting lagi ketika menambahkan fotonya.

Oke? Semoga beruntung.

Yang jelas, saya salut sekali kepada Pak Iqbal Aji Daryono. Kok bisa-bisanya masih sempat menuliskan pengalaman dan pemikiran-pemikirannya padahal setiap hari sibuk nyopir? Maka ketika isi (semacam) resensi ini kurang bisa mendapat tempat di hati kalian, tolong lupakan. Dibandingkan dengan Pak Iqbal mah saya cuma remah rengginang yang mrutug’i di penggorengan. Sekian.

Akhirnya dapet foto juga. :D

Komentar