Mari Bertemu ‘tuhan’! (Resensi Novel Traces of Love – Clio Freya)



 
Cover Traces of Love
Judul : Traces of Love
Penulis : Clio Freya
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun terbit : 2014, September
Genre : novel, action, romance, remaja
Dimensi : 416 halaman, 20 cm
ISBN : 978-602-03-0870-8

Blurb :
Sebulan telah lewat sejak Fay diterima menjadi anggota keluarga McGallaghan.
Lewat kehidupan yang nyaris sempurna di kastil McGallaghan di Paris, Fay berjuang melalui kesedihan akibat kehilangan kedua orangtuanya, sembari mencoba beradaptasi dengan anggota keluarga yang lain, termasuk Kent dan Reno. Pada saat yang bersamaan, Fay menjalin komunikasi dengan Enrique Davalos, cowok keren berambut cepak asal Venezuela yang dikenalnya di kafe.
Setelah ulang tahun Fay yang kedelapan belas yang dirayakan dengan jamuan megah, pamannya, Andrew McGallaghan, menyatakan bahwa masa berkabung Fay telah usai. Fay pun diarahkan untuk mengetahui seluk-beluk keluarga secara lebih dalam, termasuk mengenal Core Operation Unit, badan intelijen di bawah nanungan keluarga McGallaghan.
Sejalan dengan waktu, hubungan antara Fay dan Enrique terjalin semakin erat. Kent dan Reno pun membayangi gerak-gerik Fay, masing-masing dengan alasan tersendiri. Bagi Fay, hubungannya dengan Enrique berjalan sempurna, hingga Andrew McGallaghan mulai memainkan kartunya satu demi satu.
Fay pun dihadapkan pada dua pilihan, mengikuti perintah pamannya dengan mengorbankan perasaannya, atau mendahulukan perasaannya dan menghadapi kemarahan pamannya.

***
Bisa membayangkan bagaimana rasanya bertahun-tahun ngempet penasaran?
Kalau belum bisa membayangkan, cobalah membeli dan membaca novel berjudul “Eiffel, Tolong!” dan From Paris to Eternity karya Clio Freya—tersedia di seluruh Toko Buku Gramedia—tapi jangan membeli maupun membaca Traces of Love sampai empat tahun kedepan! Catatan : uncontrolled curiousity ditanggung sendiri.

(semacam endorsement dari Asti Putri Alfasani, calon pemimpin masa depan)

Oke, abaikan yang barusan.
Tentang novel ini... sinopsisnya sudah jelas sekali tertuang dalam blurb, jadi hanya beberapa hal saja yang perlu ditambahkan terkait dengan alur cerita.
Sudah baca semua?
Overview
Secara umum, menurut saya serial “Eiffel, Tolong!” mengambil tema tentang keluarga. Tapi jangan salah, ketiga novel di serial ini tidak menyuguhkan latar keluarga broken home—lantas anaknya menjadi nakal dan tak bisa diatur—lantas setelah melalui friksi-friksi tertentu keluarga itu jadi berkumpul kembali—atau kisah-kisah semacamnya. Serial “Eiffel, Tolong!”, atau Traces of Love, lebih tepatnya, bercerita tentang sebuah keluarga istimewa—McGallaghan—beserta seorang remaja bernama Fay Regina Wiranata yang ‘terjebak’ di dalamnya.
Memangnya istimewa seperti apa? Seistimewa apa?
Istimewanya kelewat batas, menurut saya. Karena, satu, keluarga ini bukan keluarga biasa—orang-orang yang menjadi anggotanya bukan tergabung berdasarkan pertalian darah, melainkan karena mereka adalah orang-orang yang diekspektasikan bisa berkontribusi besar dalam melanjutkan kejayaan keluarga McGallaghan di masa depan.
Dua, kata McGallaghan selalu memunculkan kilasan-kilasan adegan film action di kepala saya—dan saya yakin hampir semua orang yang sudah membaca serial ini akan mengalami hal yang sama. Tidak salah, memang, karena kata McGallaghan identik dengan Core Operation Unit (COU), sebuah badan intelijen yang berada di bawah naungan keluarga tersebut. Anggota keluarga McGallaghan—secara otomatis—juga merupakan agen-agen yang bekerja di COU.
Tapi, hanya karena mereka agen intelijen, jangan membayangkan keluarga McGallaghan adalah keluarga yang penuh kekerasan. Jujur saja, satu hal yang membuat saya ingin menggantikan posisi Fay adalah bahwa keluarga McGallaghan juga penuh kehangatan dan keceriaan. Mungkin lebih tepat dikatakan bahwa mereka punya dua wajah berbeda DAN mereka memasang satu wajah yang tepat pada tempat dan waktu yang sesuai.
Ah, mereka memang terlalu non-mainstream untuk diceritakan dalam satu-dua paragraf, jadi silakan klik di sini dan di sini untuk melihat resensi-resensi sebelumnya.

Tentang Traces of Love
Diawali dengan surat dari Enrique Davalos di halaman pertama, Clio Freya berhasil membuat saya tercengang kaget—sekaligus prihatin dengan nasib Kent yang belum apa-apa sudah tersakiti, lagi. Iya, l-a-g-i! Saat itu, saat saya tengah uring-uringan memprotes kenapa Kent harus tersakiti bahkan di awal cerita, ada teman yang menanggapi supaya saya santai saja—belum tentu Fay suka sama Enrique, katanya. Tapi saya sudah yakin bahwa surat itu jelas mengisyaratkan akan banyaknya peran Enrique di chapter-chapter berikutnya.
Dan ternyata, dugaan saya benar. Fay akhirnya menjalin hubungan dengan Enrique—yang sementara ini masih belum jelas bibit-bebet-bobot-nya itu—sampai suatu ketika Fay tahu bahwa ternyata Enrique adalah target dalam sebuah operasi yang diluncurkan Andrew. Mau tidak mau, Fay pun ikut terlibat—dengan memanfaatkan Enrique sedemikian rupa—demi menyukseskan operasi.
Bagi saya pribadi, alur ceritanya mulai terasa menyakitkan begitu Kent tahu bahwa ternyata Fay menjalin hubungan dengan Enrique. Kent sempat melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Fay dan Enrique bersama, karena Kent juga dilibatkan di operasi yang sama—damn, Andrew tega sekali!
Lalu semakin ke belakang, cerita difokuskan pada upaya Fay yang mencari tahu kebenaran beberapa fakta tentang kecelakaan pesawat di Amazon yang merenggut nyawa kedua orangtuanya. Fay mulai mencurigai beberapa fakta yang terasa mengganggu, tapi—seperti biasa—Andrew terlalu lihai mengantisipasi sesuatu. That’s why, ketika saya kebingungan mencari judul yang pas untuk postingan ini, kalimat Mari Bertemu ‘tuhan’ menari-nari di kepala saya, bebarengan dengan potongan adegan di halaman 322 tentang definisi Tuhan—halaman ini benar-benar bikin shocked!
Selengkapnya, baca sendiri ya...
Oh ya, di buku ketiga ini ada beberapa tokoh baru yang muncul, bersamaan dengan semakin banyaknya peran tokoh Catwoman dan Bobby Tjan yang pernah muncul di From Paris to Eternity. Sialnya, tokoh-tokoh ini memancing pertanyaan-pertanyaan baru dan rasa penasaran yang—sepertinya—saya tidak akan sanggup menunggu jawabannya bertahun-tahun lagi. Iya, l-a-g-i!
Adegan-adegan ceria dan penuh keisengan yang melibatkan para anggota keluarga juga lebih banyak dan tersampaikan dengan detil—four thumbs up untuk penulis! Yang paling saya suka itu, suasana emosionalnya dapet banget! Dan meski terkesan alurnya agak lambat, tapi saya tidak merasa bosan sama sekali.
Satu hal yang agak mengganggu saya yaitu perubahan gaya bicara The Pillar. Di dua buku sebelumnya, mereka berbicara menggunakan saya-kamu untuk bicara dengan sesama The Pillar, tapi di Traces of Love, mereka berbicara menggunakan gaya aku-kamu. Tidak masalah sih sebenarnya—percakapan mereka malah terasa lebih luwes dan mengalir lancar, tapi perubahan ini tetap saja mengganggu.
Oke, poin-poin yang lain akan saya lanjutkan di postingan berikutnya. Dan saat ini, satu-satunya harapan saya adalah supaya Clio Freya segera menyelesaikan buku selanjutnya! Titik.
Great! :)

Komentar

  1. keren banget, aku udah baca semua dan semuanya bikin deg- degan:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, sama dong. Btw kalau punya fanfiction atau apa gitu bisa lho di-post di themcgallaghans.blogspot.com. :D

      Hapus

Posting Komentar