[Review] Badut Oyen



Cover-nya yahud!

Judul : Badut Oyen
Penulis : Marisa Jaya, Dwi Ratih Ramadhany, & Rizky Noviyanti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2014
Genre : Novel horor
Dimensi : 20 cm, 224 halaman

Blurb :
Oyen, si badut kampung, ditemukan mati gantung diri di kamarnya. Tak seorang pun percaya pria sebaik Oyen bisa seputus asa itu hingga mengakhiri nyawanya sendiri.
Pihak kepolisian berusaha mengusut kasusnya dan menemukan banyak keganjilan dalam kematian pria itu. Tetapi, ketika tersangka yang dicurigai polisi ditemukan mati mengenaskan, kasus kematian Oyen kembali tak terpecahkan. Kampung mereka diteror hantu badut yang menghampiri anak-anak, bahkan mulai meminta korban.
Apa yang sebenarnya terjadi?
***
First, saya ingin bilang bahwa ketiga penulis novel ini patut berbangga hati. Kenapa? Karena ini adalah satu dari sekian dikit novel yang saya beli tanpa pikir panjang. Hahaha. Yah, dengan anggaran bulanan yang nggak pernah berlebih begini—eh—wajar kalau saya selalu pilih-pilih untuk membeli bacaan, ya kan?
Dan fakta bahwa saya membeli novel ini tanpa pikir panjang berarti saya sudah memberi nilai plus bahkan sebelum mulai membaca.
Oke, setidaknya ada dua poin yang sangat mempengaruhi saya untuk membeli novel Badut Oyen ini tanpa pikir panjang. Satu: penulisnya adalah orang-orang terpilih yang berhasil menyisihkan ribuan pesaing dalam event Gramedia Writing Project. Dua: saya sudah mengikuti cuplikan ceritanya di website. Fyi, buat yang—mungkin—belum tahu, Badut Oyen adalah satu dari tiga novel yang dihasilkan oleh para penulis Gramedia Writing Project.
Belum tahu juga apa itu Gramedia Writing Project?! Astaga… Klik di sini!
Oke, kembali ke topik.
Oyen, tokoh yang namanya diambil sebagai judul, diceritakan sebagai seorang pria yang berprofesi sebagai badut, hidup miskin, baik hati, tapi sering tertimpa kemalangan. Ia tinggal di sebuah rumah bersama dengan seorang wanita bernama Suparni yang bekerja sebagai asistennya.
Hari-hari yang berat mereka lalui dengan penuh ketabahan, hingga suatu ketika warga kampung digegerkan dengan penemuan mayat Oyen yang tergantung di rumahnya. Warga kampung pun bertanya-tanya, mungkinkah Oyen yang selama ini mereka kenal sebagai pria yang baik akan mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu?
Hal inilah yang menjadi topik utama dalam cerita. Pembaca dituntun untuk mengetahui satu demi satu peristiwa yang pada akhirnya akan menguak misteri kematian Oyen.
Secara pribadi, saya mengakui bahwa novel ini sukses. Feel-nya itu… dapet banget! Suasana mengerikan yang terjadi pasca kematian Oyen digambarkan dengan apik dan berhasil bikin saya merinding. Apalagi kalau dibaca malem-malem pas suasana hening.
Kemudian poin lain yang saya acungi jempol adalah kehebatan ketiga penulis dalam menyatukan pikiran untuk menulis buku ini. Nggak gampang lho, menulis satu buku secara estafet begitu. Adegan-adegan di novel ini terasa seperti ditulis oleh satu orang saja tanpa ada perbedaan mencolok dalam gaya penulisan antara bab satu dengan bab yang lainnya. Dialog-dialognya juga ringan dan enak dibaca.
Tapi sayangnya—menurut saya—ada beberapa hal yang rasanya kurang gimanaaa gitu, terutama di bagian ending. Setelah sekian banyak halaman dibaca, setelah berpikir dan menerka-nerka sepanjang cerita, saya berasa pengen garuk-garuk aspal begitu sampai di bagian ending. Apalagi di bagian itu tiba-tiba ada tokoh seorang janda yang muncul. Hmmm, kalau nggak salah, kalimat yang saya lontarkan saat itu adalah, “Lho, kok gini sih?”
Yah, tapi mungkin cuma saya aja yang kurang sreg dengan hal ini… atau teman-teman lain juga? Entahlah.
Dan bab satu sampai lima menurut saya akan lebih baik kalau disebar dan diselipkan di antara bab-bab berikutnya. Lima bab itu terlalu fokus pada penderitaan Oyen—dirundung kemalangan bertubi-tubi. Pembaca jadi ikutan gemes—kayak Suparni. Mungkin ada baiknya kalau adegan-adegan sedih itu nggak dikumpulkan jadi satu di bab-bab awal.
Trus, mengenai cover-nya, saya SUKA pangkat tak hingga! Kesannya ehm banget gitu. Simpel, tapi gambar siluet badut yang memegang martil berlumur darah itu langsung menarik perhatian. Bayangkan, badut memegang martil berlumur darah—dua hal yang secara alami sangat bertolak belakang! Kece lah pokoknya.
Overall, menurut saya novel ini nggak cocok lama-lama bertengger di rak toko buku karena akan lebih cocok dibawa pulang dan duduk manis di rak baca pribadi! Dan kalau diminta memberi nilai di rentang nol sampai sepuluh untuk Badut Oyen, saya akan dengan senang hati ngasih nilai (22014 : 22011). :-)

Komentar