[Review] Gilakpedia – Chilmi Muhammad



Judul buku : Gilakpedia!!! (Catatan Malang si Mahasiswa Malang)
Penulis : Chilmi Muhammad
Penerbit : de Teens (DIVA Press)
Tahun terbit : 2013 (Agustus)
Tebal buku : 200 halaman
Blurb :
“Memelototi isi buku ini, pembaca akan langsung tahu bagaimana penulis tanpa malu menertawakan dirinya sendiri. Melalui tutur bahasa yang super alay, penggalan perjalanan hidup sarat perasaan kecewa, jengkel, dan apes diceritakan melalui bahasa-bahasa sederhana tapi sangat mujarab untuk me-refresh otak. Sayangnya, tak satu pun kata cuk! di buku ini. Padahal, meminjam istilah Syahrini, nasib sial penulis begitu cetar membahana…”
Mas’ud Fahlafi, SS.,
jurnalis Liputan 6 SCTV Jogja

“Cerita-cerita kritikan khas mahasiswa, disuguhkan dengan sedikit komedi menggelitik cerdas. Layak dibaca…!!!”
Abrar Rifa’I,
penulis novel Laila

***
Cuk! (ups) Bener-bener nggak salah pilih buku ini untuk dibeli. Padahal sebenernya saya lebih cenderung beli novel fiksi karena bisa dipake untuk belajar sambil dinyinyirin kalau ada bagian-bagian yang kurang memuaskan atau kurang pas di logika, hahaha.
Sialnya, Gilakpedia nggak ngasih saya kesempatan untuk nyinyir—karena emang nggak ada yang bisa dinyinyirin!
Mau dibaca model gimana pun, semua yang diceritakan di sini tuh nggak pas di logika tapi NYATA! Dadi yo aku meneng ae. Arepe piye maneh, jal? *logat Blitish—Blitar English
Awalnya, saya tertarik beli buku ini karena judulnya: Catatan Malang si Mahasiswa Malang. Sebagai mahasiswa yang juga perantau di Malang, menurut saya wajib hukumnya baca buku ini. Bagaimanapun, pasti satu atau dua bagian dari cerita-cerita di dalamnya pernah kita alami juga. Ada kisah penggalauan milih tempat kuliah, gagal ujian masuk STAN, adaptasi ala mahasiswa baru, sampai kehidupan penulis selama jadi mahasiswa di kota Malang. Konyol, lucu, ngenes, apes, dan gila! Ehm, mungkin karena itu juga buku ini dikasih judul Gilakpedia.
Banyak juga quote-quote yang bertebaran di buku ini, mulai dari quote yang weird sampai quote yang kritis dan cihuy banget. Oiya, ada dua yang paling saya inget. Satu yang kritis dan satu yang paling cihuy. Ini nih…
“Tenang, Chilmi, tenang. Ini yang nempel baru selimut, belum aib para pecundang negara. Jadi, nggak usah panik.”
Nah, kan?
Yang satunya ini nih…
Kalau kamu merasa laki-laki, jangan bawa pacarmu ke tempat gelap. Tapi, bawalah dia ke depan penghulu (sok bijak). Kalau kamu merasa sebagai warga negara yang baik, jangan pernah merasa bahwa bangsamu adalah bangsa kecil dan nggak punya kelebihan dibanding bangsa lain (sok nasionalis).
Nah, kan? HAHA banget kan?
Quote-quote semacam ini dituliskan di setiap akhir bab, sebagai kesimpulan dari keseluruhan isi. Tapi, ya, harap hati-hati karena kesimpulan-kesimpulan itulah yang bikin buku ini “gila”.
Masalahnya…
*loh, tadi katanya nggak ada yang perlu dinyinyirin?
Ini bukan nyinyir, woy! Cuma semacam rekomendasi aja buat penulis. Di halaman 43, setelah cerita sindiran tentang Monas dan pejabat, paragraf terakhirnya berbunyi:
Meskipun kisah ini hanyalah fiktif belaka, apakah Anda setuju dengan saya jika dialog itu real terjadi dalam kehidupan ini, terutama di negeri kita? Maaf, sedikit serius tulisan yang satu ini, hehehehe.
Ini nih yang agak mengganggu. Setelah dibikin ngakak-ngakak, eh paragraf terakhirnya serius begitu. Mungkin ada baiknya kalau kalimat Maaf, sedikit serius tulisan yang satu ini, hehehehe diganti dengan kalimat lain yang ngocol, sekedar untuk ngurangin kadar seriusnya itu.
Ya, begitulah.
Overall, buku ini keren banget karena udah SUKSES mengalihkan pikiran saya dari kegalauan akan Kalkulus dan Aljabar Linier. Two thumbs up!
Semoga nanti ada Gilakpedia part II ya…

Komentar