[Review] Beautiful Nightmares – Farrahnanda



Judul novel : Beautiful Nightmares (Ho Sceito Te)
Penulis : Farrahnanda
Penerbit : de Teens (DIVA Press)
Tahun terbit : 2013 (September)
Tebal buku : 182 halaman
Blurb :
Badan Andrea bergetar hebat. Wajahnya berubah seputih tisu. Bibirnya juga ikut gemetar. Di pelupuk matanya mengapung air. Betul-betul ketakutan yang tertahan. Dan dia tidak bisa berteriak untuk melepas rasa takut itu! Badannya seperti ditali mati dengan simpul yang hanya bisa dibuat oleh pelaut.
Lucian, sesosok incubus yang baru membebaskan diri dari kurungan di Skandinavia, mendatangi Venice. Ia mencari Mihaela yang terus bereinkarnasi jadi manusia. Sambil mencari sang adik, Lucian membuat harem baru dengan mengumpulkan jiwa gadis-gadis yang terlelap untuk membuat kekuatannya pulih secara bertahap. Aksi Lucian semakin intens. Korban berjatuhan semakin banyak. Teror terus berlanjut. Mihaela dan Lucian tak berhenti mencari korban sampai ke seluruh dunia… hingga ke dalam… MIMPIMU!
***
Setelah baca novel ini, saya serasa mau koprol sambil bilang WOW, meskipun ungkapan itu udah nggak trending lagi. Hahaha. Dari halaman awal, suasana yang dibangun Farrahnanda udah mencekam, dan makin ke belakang makin menggila! Horor tapi eksotis, menyeramkan tapi keren! I’m speechless dan saat pertama buka plastiknya saya langsung memutuskan untuk membaca sampai habis dalam sekali duduk.
Oke, lanjut!
Yang paling saya suka dari Beautiful Nightmare ini adalah penggambaran latarnya. Entah kenapa saya bisa merasakan berada di kota romantis Venice yang sedang dibayang-bayangi teror mengerikan karena satu demi satu gadis yang berada di Venice mengalami gangguan jiwa lalu kehilangan nyawa saat tidur di malam hari. Diceritakan bahwa di dalam mimpi, mereka didatangi sesosok makhluk yang—ehm—keren setengah mati. Makhluk itu meminta—
Oke, stop! Saya takut kebablasan cerita lalu jadi spoiler.
Penggunaan kata asing juga bertebaran di novel ini. Saya yang selama ini cuma tahu buonasera jadi ngerti kata-kata bahasa Itali yang lainnya. Seneng deh!
Tapi awalnya saya kurang paham juga sih, kenapa mesti gini dan kenapa mesti gitu. Mungkin ada baiknya kalau Farrahnanda menjelaskan dulu apa itu incubus, apa pekerjaannya, gimana sejarahnya, dan lain-lainnya. Masalahnya nggak semua pembaca punya pengetahuan seluas Farrahnanda tentang dunia barat dan seluk-beluknya.
Lalu, ending-nya bikin saya garuk-garuk aspal! Gemes! Kenapa itu si Linz dan Franz—tokoh yang kayaknya utama—hidupnya berakhir begitu? Apa artinya perjuangan mereka kalau toh akhirnya mereka mengalami nasib serupa? Dari awal saya pikir mereka bisa mendapat jalan keluar untuk mengakhiri teror, tapi kok…
Kok gitu?
Tapi ya sudahlah. Mungkin penulis memang maunya begitu. Overall, novel ini berhasil bikin saya merinding disko dan sempat takut tidur. Hahaha. At last, novel ini masuk jajaran novel KEREN versi saya. Bellissimo!

Komentar

Posting Komentar