[Review] Good Memories - Lia Indra Andriana




Judul novel : Good Memories
Penulis : Lia Indra Andriana
Penerbit : Penerbit Haru
Genre : Korean romance
Tahun terbit : Cetakan pertama, September 2013
Dimensi : 336 halaman, 19 cm

Blurb :
“Tiga bulan lagi, di waktu dan tempat yang sama, aku akan mengevaluasi apakah kau layak diberi tambahan kupon pertemanan.”
Saat banyak orang berharap bisa kuliah di luar negeri, Maya malah rela melakukan apa pun agar bisa meninggalkan Kwanghan University dan kembali bersama kekasihnya, Alva, di Indonesia. Sayangnya, semua tidak semudah itu.
Seakan hidupnya sekarang belum cukup rumit, Maya juga harus menghadapi Luc, teman sekelasnya, seorang pria berkebangsaan Prancis yang terang-terangan menyatakan suka padanya. Luc bahkan tidak keberatan hanya menjadi teman Maya setelah mendapatkan kupon Friendvitation buatan gadis itu.
Ketika kupon Friendvitation yang Maya berikan kepada Luc telah expired, akankah Maya memperpanjang masa berlaku kuponnya? Ataukah Maya akhirnya akan kembali kepada Alva dan melupakan semua yang terjadi di Korea?
Inikah cinta? Membuatmu rela melakukan tindakan bodoh yang tak masuk akal?
***
Ini adalah satu dari sekian dikit novel berlatar Korea yang berhasil memancing ketertarikan saya untuk membacanya. Ya, kalian tahu sendiri kan, saya agak skeptis dengan novel-novel Korean romance, hehehe. Bukan gimana-gimana sih sebenarnya, saya kurang suka baca novel genre ini karena entah kenapa saya agak sulit menghapal nama-nama tokohnya. Park Ji-Hye lah, Kim So Hyun lah, Lee Bo Na lah, bla bla bla… *subyektif banget alasannya
Jadi gampangnya, kalo kalian nemu resensi novel Korean romance di blog ini, artinya novel yang saya bahas itu not bad at all. Yup!
Tokoh utama dalam Good Memories ini adalah Maya, seorang mahasiswi Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Kwanghan University (Kwangdae) Seoul, Korea. Dia menjalani hubungan jarak jauh dengan Alva, kekasihnya yang tinggal di Jakarta.
Cerita dalam novel ini ditekankan pada kehidupan Maya yang bisa dikatakan “diperbudak oleh cinta”. Demi mempertahankan hubungannya dengan Alva, Maya rela melakukan apa saja. Bahkan dia sengaja membuat imej yang buruk di kampus agar ayahnya kecewa lalu menariknya pulang ke Indonesia. Singkatnya, satu-satunya hal yang dikehendaki Maya adalah bisa selalu berada di dekat Alva.
Maya merasa tidak ada yang salah dengan segala hal yang sudah ia lakukan, sampai seorang pemuda Prancis bernama Luc Challand masuk ke dalam hidupnya. Pemuda itu adalah temannya di kelas bahasa Korea. Dengan berbagai cara, sedikit demi sedikit Luc berusaha membuat Maya mengerti bahwa caranya dalam menunjukkan cinta pada Alva itu salah.
Apa yang terjadi selanjutnya? Kenapa Luc berusaha menyadarkan Maya? Kupon macam apa yang menjadi gerbang takdir mereka? Nah, silakan baca sendiri ya, hehehe.
***
Setiap membaca novel, apa pun genre-nya, poin-poin yang saya amati nggak akan jauh berbeda. Iya, betul! Yang pertama, cara menuliskan jalannya cerita. Sebagai bacaan remaja, menurut saya novel ini ringan dan gampang dibaca. Enak. Ibaratnya tuh kita nggak perlu kerut dahi dulu untuk memahami adegan per adegannya. Jadi bisa langsung tschuss ke otak.
Poin kedua yang saya amati adalah ide. Untuk novel ini, jujur, idenya sebetulnya biasa aja, TAPIII… saya sangat terkesan dengan sarana yang dipake untuk membangun ceritanya, yaitu kupon! Nah, saya yakin kalian penasaran juga. Kupon? Kupon apa? Kupon pertemanan? Maksudnya gimana sih?
Oke, menurut saya, pemakaian “kupon” ini no-mainstream. Two thumbs up!
Poin selanjutnya biasa saya sebut hawa sinetron, hehehe. Poin ini adalah penilaian saya tentang hal-hal yang kurang pas di logika. *harap maklum, anak matematika :p
Dalam novel ini, ada satu hawa sinetronnya—menurut saya—yaitu perubahan sikap Luc yang semula terkesan biasa saja menjadi -------- pada Maya. *sori ya, saya no spoiler Menurut saya, ada baiknya penulis membeberkan isi hatinya si Luc juga, sehingga pembaca bisa menerima perubahan sikapnya itu.
Ehm, entah perasaan saya aja atau gimana, yang jelas perubahan sikap Luc ini terkesan ujug-ujug.
Nah, poin terakhir yang saya cermati yaitu ada atau nggaknya part-part yang cetar membahana. Novel yang bagus—lagi-lagi menurut saya—adalah novel yang setidaknya mengandung satu adegan yang bisa mengaduk-aduk hati dan perasaan. *halah
Novel ini pun memenuhi poin terakhir. FYI, saya sempat nyesek banget waktu baca halaman 196-197. Berasa ada bola bekel yang nyangkut di tenggorokan gitu. Intinya, poin yang ini well done.
Overall, berhubung kalian tahu saya bukan Kpopers, dan saya udah bilang bahwa novel ini berhasil memancing ketertarikan saya untuk membaca dalam sekali duduk, jadi saya yakin kalian bisa menyimpulkan kualitas Good Memories ini, ya kan? C’est magnifique lah kalo dalam bahasanya si Luc, hehehe.
Intinya, novel ini keren! Cocok buat kalian semua, baik yang pecinta Korea maupun bukan. Dengan interval penilaian mulai nol sampai sepuluh, saya pilih angka delapan untuk Good Memories-nya Mbak Lia Indra Andriana ini. Grab it fast, guys!

Komentar