[Review] Penjaja Cerita Cinta - @edi_akhiles



Covernya kece! Cocok sama judul!

Judul         : Penjaja Cerita Cinta
Penulis       : @edi_akhiles
Penerbit     : DIVA Press, Yogyakarta
Cetakan 1  : Desember 2013
Tebal         : 192 halaman

Sebelumnya, saya ucapin makaaasiiih banget buat Pak Edi yang udah berbaik hati ngasih buku kece ini secara gratis via giveaway beberapa waktu lalu. Udah dikasih, bebas ongkir pula. Beuh, beribu merci beaucoup deh pokoknya.
Ehm… ehm… *take voice
Jadi ceritanya, buku Penjaja Cerita Cinta ini adalah sebuah kumcer alias kumpulan cerpen karya Pak @edi_akhiles, CEO DIVA Press Group. Di dalamnya ada lima belas cerpen yahud dengan topik jleb-nya masing-masing. Nggak percaya? Coba baca lagi tuh tagline-nya: Kesetiaan, Rindu, Perpisahan, dan Kenangan, cerita-cerita tak terduga.
Maknyus!
Kumcer ini diawali dengan kisah tentang penantian yang dibawakan oleh seseorang yang disebut “penjaja cerita”. Dimulai dari halaman 9 dan diakhiri pada halaman 46, cerpen “Penjaja Cerita Cinta” ini tampak paling istimewa di antara cerpen-cerpen lainnya. Selain paling panjang, judul cerpen inilah yang dicomot sebagai judul utama buku.
Dengan ragam diksinya yang begitu tumpah ruah, pembaca bisa sekaligus belajar memperkaya wawasan tentang penulisan karya fiksi. Dan memang di bagian Kata Pengantar, Pak Edi menuturkan,
“…bacalah sampai tuntas, jangan cuma menikmati ceritanya, tetapi cermatilah terutama teknik-tekniknya, pilihan diksi-diksinya, juga lain-lainnya yang menopang struktur cerita, semoga berguna untuk menjadi teman bagi Anda dalam berlatih menulis fiksi.”
Cerpen berikutnya bertajuk “Love is Ketek!”. Genre-nya remaja, dengan gaya penuturan yang ringan nan santai. Saya berani jamin, sekali melihat judul, pembaca pasti tergelitik untuk segera menghabiskan paragraf demi paragrafnya. Lihat aja penggalannya nih,
Lalu, mau ma sapa gue idup nih? Cewek gue yang wanita gitu? Beda sih ma emak gue! Gue selalu comfort banget ma emak gue, bedalah ma si Ve yang kadang comfort kadang kamprot! Apa gue milih idup ma emak gue terus ya selamanya? Tapi kalo gue pengen anu… (halaman 56)
Nah, gokil kan? Hahaha! Keren!
Beberapa cerpen selanjutnya senada dengan cerpen Penjaja Cerita Cinta: padat dan ‘cukup berat’. Ada “Cinta yang Tak Berkata-Kata”, “Menggambar Tubuh Mama”, kemudian “Tamparan Tuhan”, “Abah, I Love You”, “Aku Bukan Batu”, dan “Lengking Hati Seorang Ibu yang Ditinggal Mati Anaknya”.
Nah, saya memang sengaja menyebutkan cerpen-cerpen tersebut dalam satu golongan. Kenapa? Karena, seperti yang udah saya bilang tadi, keenam cerpen itu senada. Sama-sama ‘berat’, dalam artian cerpen itu menggunakan gaya penceritaan yang—kata teman-teman saya—, “Nyastraaa bingit!”
Gampangnya gini deh: anak-anak remaja biasanya pake ngerutin dahi dulu supaya bisa bener-bener ngerti karya fiksi yang model begini. Iya, lebih-kurang begitulah. I’m pretty sure that you know well about what I mean by the phrase “nyastra bingit”, hehe.
“Cinta yang Tak Berkata-kata” mengisahkan seorang gadis yang kekasihnya adalah seorang penyair. Manis sekali menurut saya.
Lalu cerpen-cerpen lainnya cenderung mengambil tema inspiratif, tapi ada satu yang sempat bikin merinding disko, yaitu “Menggambar Tubuh Mama” karena adegannya mengerikan. “Lengking Hati Seorang Ibu yang Ditinggal Mati Anaknya” sekilas mengingatkan saya pada salah satu karya Seno Gumira Ajidarma, tapi ternyata beda sih. Overall, ceritanya bagus banget.
Oke, lanjut!
Cerpen “Dijual Murah Surga Seisinya”, “Secangkir Kopi untuk Tuhan”, Tak Tunggu Balimu”, “Cinta Cantik”, Cerita Sebuah Kemaluan”, dan “Munyuk!” juga saya golongkan jadi satu, dan seandainya ada semacam tangga interval, saya bakal nempatin enam cerpen ini di antara “Love is Ketek” dan “Penjaja cerita Cinta” dkk.
Penyampaiannya nggak berat, tapi juga nggak terlalu encer. Secara pribadi sih saya paling suka sama karya fiksi model begini. Bahasa yang dipake nggak nyemeh-nyemeh, juga nggak pake diksi setinggi awan, tapi isinya berkesan. Iya. Gitu.
Cerpen terakhir berjudul “Si X, Si X, and God”. Cerpen yang satu ini unik banget! Isinya cuma dialog tanpa narasi, tapi gampang dimengerti. Bercerita tentang perdebatan antara dua orang, cerpen ini mengakhiri diri dengan seutas kalimat pendek yang ngena dan menurut saya asik banget, “Ayuk, shalat, ntar kamu kan merasakan kehadiran-Nya.”
***
Sebuah karya nggak mungkin sempurna kan ya? Tapi meskipun nggak ada kekurangan, seenggaknya pasti ada satu atau beberapa hal yang mungkin terasa kurang ehm di hati para pembaca. Nah, sebagai pembaca dan manusia biasa, saya juga gitu sih, hehe.
Ada beberapa bagian yang—jujur saja—saya nggak suka. Ini bukan soal teknik atau diksi atau apalah kawan-kawannya itu, karena, ya, memang bukan itu. Kalau teknik dan diksi sih jangan ditanya lagi, guys. Awesome lah pokok’e. Yang bikin saya nggak sreg  ini kayaknya cuma salah penempatan aja.
Sekarang coba cermati ini:
Tanpa sempat memekik, kepala Mama dalam hitungan milidetik bak laju M-1 VR46 bergelinding jatuh, pas berhenti di sela sepasang kaki kecil itu. (halaman 73)
Tubuhku jadi gigil merinding. Jantungku berdegup lebih kencang dari kocokan piston YZR-M1 di trek lurus Losail Qatar! Keringat dingin menderas, membanjiri kujuran jasadku. (halaman 161)
Menurut saya, frase-frase yang saya warnain merah itu merusak suasana. Lagi tegang-tegangnya ngebayangin suasana mencekam, eh si VR46 sama YZR-M1 lewat nggak pake permisi. Buyar deh setting ngerinya! Bagus sih, cuman menurut saya, Rossi dkk nggak selayaknya nongol di keadaan kayak gitu.
Kemudian baca yang ini:
Seperti biasa, berhamburanlah banjar-banjar bait puisi yang seperti telah begitu terekam di alam bawah sadarnya. Habit, ya tiba-tiba aku ingat teori the power of repetation, bahwa segala apa pun  yang diulang-ulang(halaman 56)
Puas banget deh kelihatannya dia bergaya psikolog yang merasa lebih cerdas dari Sigmund Freud saat bertutur tentang psikoanalisis. Uhhh, Freud aja nggak seheboh kamu bodoh-bodohin orang, tau! Sungutku, meski hanya dalam hati aja sih. (halaman 109)
Nah, selain merusak suasana (juga), ini yang ngomong kayaknya bukan si tokoh, tapi Pak Edi sendiri dengan materi-materi kuliah S3-nya. Errr…
Lalu satu hal lagi yang pengin saya ulas yaitu cerpen “Tak Tunggu Balimu”. Setelah membaca cerpen tersebut tempo hari, teman kos saya sempat nyeletuk, “Aku kok ora paham karepe cerpen iki yo…”
Olala, ternyata dia nggak paham isi cerpennya. Saya juga baru menyadari bahwa saya bisa paham karena cukup kenal Pak Edi yang memang sering menciptakan gaya baru, misalnya kata atuh sekitar satu tahun yang lalu, kemudian lagu Tak Tunggu Balimu itu. Biasanya Pak Edi akan menyelipkan atuh atau potongan lagu koplo itu di hampir semua tweet yang beliau buat.
Jadi, intinya, orang-orang yang nggak kenal Pak Edi agak susah juga untuk ngerti cerpen “Tak Tunggu Balimu” itu.
Tapi tapi tapi, jangan lupakan kerennya cerpen-cerpen lain. Bahkan dari pengamatan saya, layout-nya juga nggak mau kalah keren. Nggak bakal bosen deh ngebacanya! Apalagi di bagian akhir buku, Pak Edi menyertakan bonus beberapa tips penting untuk menulis.
Nah, tunggu apa lagi? Grab it!

Komentar