Shania Sanjou!




Judul Buku            : Shania Sanjou!
Penulis                   : Teta
Penerbit                  : UKMP Publishing
Tahun terbit           : 2013
Tebal buku             : 138 halaman
Dalam menjalani hidup, tentunya masing-masing orang punya beberapa momen yang tidak terlupakan. Entah itu momen menyenangkan atau  menyedihkan, yang jelas momen-momen istimewa tersebut pasti ada.
Salah satu momen yang banyak dikenang orang adalah momen masa kecil dengan segala macam kenangannya. Inilah yang coba dimunculkan oleh Teta dalam bukunya, Shania Sanjou!.
Buku yang dibalut pernak-pernik tentang JKT48  ini menceritakan kehidupan seorang wanita bernama Shania. Saya katakan ‘dibalut pernak-pernik JKT48’ karena memang demikian adanya. Beberapa tokoh yang ada di dalamnya memakai nama personel JKT48, diantaranya Melody, Mova, Ayana, dan Shania sendiri. Beberapa bab dalam buku ini juga menggunakan judul lagu girlband tersebut, misalnya Aitakatta dan Heavy Rotation. Sedikit banyak, hal ini memberi warna tersendiri.
Sebagian besar isi buku ini merupakan cerita tentang kenangan masa lampau Shania. Ada bagian di mana dia berangkat sekolah diantar sang bapak, ada bagian yang menceritakan kehidupannya di rumah, dan lain sebagainya. Tapi ada satu bagian yang paling saya sukai, yaitu ketika penulis menggambarkan Shania yang gemar memandangi kereta api lewat. Hal yang sepele, memang. Namun, penulis berhasil membuat saya benar-benar membayangkan suasana yang terjadi. Gaya penulisan yang sedemikan rupa juga membuat saya bisa merasakan apa yang dirasakan tokoh Shania.
Buku ini mengisahkan kehidupan Shania dengan gaya penceritaan yang unik. Saya bisa mengatakan unik karena masing-masing cerita menggunakan sudut pandang orang pertama dan bab demi bab dalam buku ini dibuat berloncatan antara masa kecil, masa remaja, dan masa sekarang. Secara pribadi, saya mengakui bahwa penulis memilih cara bercerita yang tepat, sehingga bisa menghindarkan pembaca dari rasa bosan. Teknik menulis dan diksinya juga bagus. Cerita begitu mengalir dan bisa dinikmati tanpa harus ‘mengerutkan kening’.
Praktis hanya ada dua kekurangan kecil yang mengurangi poin-poin bagus di atas. Pertama, penulis tidak memberi penjelasan tentang judul. Sejak membaca dari halaman satu, saya sudah bertanya-tanya dalam hati: apa maksud judul Shania Sanjou!? Sampai selesai membaca pun saya tetap tidak mengerti kenapa buku tersebut diberi judul Shania Sanjou!. Pembaca yang tergolong J-popers mungkin tahu apa artinya sanjou, tapi bagi pembaca yang bukan J-popers --seperti saya misalnya--, hal ini cukup mengganggu.
Kelemahan berikutnya terletak pada editing. Perlu diingat bahwa ada beberapa pembaca yang sangat mengagungkan kesempurnaan dan kerapian naskah. Dalam buku ini, puluhan kesalahan ketik bertebaran mulai dari halaman awal sampai akhir, dan tampaknya tidak terlalu diperhatikan oleh penulis.
Tapi, terlepas dari keunggulan dan kelemahannya, buku ini sangat patut dibaca untuk mengingatkan kita bahwa selalu ada yang pantas dikenang dari sebuah kehidupan.

Komentar