Menimba Ilmu di Kampus Fiksi

Logo #KampusFiksi


Well, postingan panjaaaaangggg kali ini yaitu tentang pengalaman saya dalam upaya meraih mimpi. Hahaha… *apaan sih
Jadi gini, tanggal 27-28 April kemarin saya menjadi peserta pelatihan menulis fiksi yang diadain oleh Diva Press. Kalian-kalian yang suka baca pasti tau lah yaaa apa itu Diva Press. Yup, Diva Press adalah nama sebuah penerbit mayor yang bertempat di Yogyakarta.
Oke, next!
Saya udah agak nggak ingat gimana awalnya saya bisa ikut acara ini. Awalnya, sekitar bulan Maret akhir –waktu itu lagi galau menjelang UN- di siang bolong yang cerah saya lagi asik main Twitter. Eh, di beranda banyak twit dari Penerbit DIVA Press (@divapress01) yang ngomongin #KampusFiksi. Penasaran, saya search tuh hashtag dan seketika mata saya berubah warna jadi ijo! *hiperbola dikit
Ada apa gerangan kok mata saya berubah warna jadi ijo? Nah, bukan karena ketumpahan cat lho ya, tapi karena info tentang Kampus Fiksi itu amat saaangat menggiurkan sekali! Pelatihan menulis fiksi selama dua hari di Jogja, free tempat tinggal plus makan, jalan-jalan ke spot-spot unik kota Jogja, dan satu lagi, semuanya GRATIIISSS! Hadeeeuh, kurang apa lagi coba?
Oiya, alumnus Kampus Fiksi juga berprioritas nerbitin karyanya di Diva Press lhooo. Jadi menurut saya, nggak ada ruginya deh jadi bagian dari acara kece ini.
Yak, kembali ke cerita awal saya waktu daftar.
Seleksi untuk bisa jadi peserta Kampus Fiksi itu gampang-gampang susah. Iya, para pendaftar cuma diminta ngirimin satu cerpen bertema romantik. Pendaftar yang sekiranya udah punya teknik dasar untuk dikembangkan, insya Allah bakal lolos. Iya, gitu doang. Gimana? Gampang kan?
Dan alhamdulillah saya lolos! Hihihi…
Nah, sekarang coba deh cekidot catatan perjalanan saya berikut ini. Cuuussss!
Jum’at, 26 April 2013
Jogjaaa, I’m coming!
Saya berangkat jam setengah sepuluh pagi dari Stasiun Wlingi, Blitar. Naik apa? Naik kereta Malioboro Ekspres. Ini kali pertama saya naik kereta mahal lho, hihihi. Maklumlah, selama ini naiknya cuma kereta lokal yang you-know-lah-kondisinya-seperti-apa. Kereta Malioboro Ekspres ini nyaman, adem –ACnya disetel dingin parah kayaknya-, bersih, wangi, no-pedagang dan no-pengamen. Widih, berasa jadi eksmud aja saya waktu itu. Ada mbak-mbak dan mas-mas yang pake seragam kayak pramugari pula. Cakep dah!
Dulu waktu masih kecil, tiap ada kereta macam itu lewat, saya sering ngebayangin betapa nyamannya ada di dalam sana. Apalagi aroma makanan dari gerbong kereta makan selalu menyebar ke mana-mana. Beuh, bikin orang-orang di luar pada gemes! Include me.
“Buk, pengen deh naik kereta putih itu!” Dulu saya sering merengek-rengek kayak gini. Iya, kebanyakan kereta mahal warnanya putih kan ya, hehehe.
“Iya, kalau perginya ke Jakarta, baru naik kereta itu,” jawab Ibuk. Jadilah dulu saya nyebut kereta macam itu dengan sebutan ‘kereta Jakarta’.
Woi, ini apaan sih kok jadi ngelantur?
Ke Yogya yuuuk...


Kayak gini nih penampakan Malioboro Ekspres...
Oke, lanjut. Ini juga kali pertama saya pergi ke Yogyakarta lho. Yup, saya sama sekali buta kota Jogja. Tapi mau gimana lagi, bukannya segala sesuatu itu perlu perjuangan? (termasuk untuk jadi penulis, haha aamiin). Akhirnya saya pun nekad berangkat juga. Toh saya udah gede. Udah tujuh belas tahun. Punya mulut pula. Intinya nggak mungkin nyasar lah, hihihi. Well, I have nothing to worry about. *ngutip kata-katanya Clio Freya
Oiya, saya SENDIRIAN lhoooo… Ibuk sebetulnya agak ragu-ragu. Saya agak takut juga sih, tapi balik ke yang tadi. Saya udah gede. Udah tujuh belas tahun. Punya mulut pula. Hahaha… Okesip.
Sebetulnya ada tiga lagi orang Blitar yang lolos jadi peserta Kampus Fiksi. Ada Leny, si kecil dari Kesamben, yang notabene temen sekamar plus temen sekelas saya selama di SMA. Ada Mas Adi Nugroho, guru Matematika asal Talun yang getol memensyen di Twitter sejak pengumuman peserta Kampus Fiksi keluar –entah dia tau dari mana kalau saya juga dari Blitar-. Dan satu lagi, ada Mas Widya Nurrohman, mahasiswa Kedokteran Hewan - Unair dari wilayah Tlogo, Blitar agak selatan sana. Sayangnya kami berempat nggak terkumpul di satu angkatan. Saya sama Mas Widya di angkatan 1, bulan April, sedangkan si Leny sama Mas Adi masuk angkatan 2, bulan Mei.
Sekitar jam setengah empat sore, saya nyampe di Stasiun Yogyakarta. Stasiunnya gede plus baguuus banget! Tapi sayangnya, waktu itu saya nggak sempat menikmati suasana –nggak bisa foto-foto juga karena kamera ponsel saya rusak-. Stasiunnya ramai sekali. Saya juga lagi panik dan bingung nyari pintu keluar. Tadi begitu berangkat dari Stasiun Solo menuju Yogyakarta, Mbak Ve –tim penjemput dari Diva Press- udah nelpon dan ngasih tau kalau mereka udah nunggu di Stasiun Jogja.
Pintu timur Stasiun Yogyakarta
Setelah nanya tiga kali sama tiga satpam yang berbeda, saya nyampe juga di pintu keluar bagian timur –di Stasiun Jogja ada dua gerbang, timur sama selatan-. Celingak-celinguk, saya nggak nemu tanda-tanda orang yang kelihatannya lagi nyariin saya.
Mendadak What Makes You Beautiful-nya One Direction berbunyi nyaring dari saku. Mbak Ve!
“Halo, kamu dimana?” tanya Mbak Ve.
“Saya udah di pintu keluar yang Mbak bilang tadi.”
“Aku juga disitu lho, kamu pake baju warna apa?”
Saya celingukan lagi.  “Pake kaus putih, Mbak.” Sambil tetep bicara di ponsel, saya jalan pelan-pelan sambil muter-muter nyariin Mbak Ve yang katanya pake baju ungu. Nah, begitu saya balik badan, ternyata Mbak Ve berdiri dekat tiang sambil megang ponsel juga. Cuma sekitar dua meter dari tempat saya berdiri.  Alhamdulillah…
“Oh, Asti ya? Widya mana?” todong Mbak Ve langsung.
Waduh! Mas Widya aja saya belum tahu orangnya yang mana. “Nggak tahu, Mbak.”
“Dari Blitar juga kan?”
“Iya, tapi saya belum tahu orangnya, hehehe.”
Seketika itu juga saya merutuk-rutuk sendiri dalam hati. Tadi dari Solo sampai Jogja, kursi sebelah saya kosong. Kan harusnya saya bisa ngabarin Mas Widya supaya pindah tempat duduk. Ya, seenggaknya nggak bakal kebingungan nyari kayak gini. Setidaknya saya juga nggak bingung sendirian nyari pintu keluar. Tapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, wkwkwk.
Habis itu saya diajak keluar. Di sana udah ada Mas Acong –tim penjemput juga-. Saya duduk di pinggiran taman sama Mas Acong, Mbak Ve sibuk nelponin Mas Widya.
Nggak lama kemudian, Mas Widya nongol. Lalu meluncurlah kami semua menuju Rumah Kampus Fiksi, naik mobil Xenia (kalo nggak salah) hitam berlogo DIVA Press di kaca depan. Cusss!
Menuju Rumah Kampus Fiksi
Selama di perjalanan menuju lokasi, kami berempat –saya, Mas Widya, Mbak Ve, Mas Acong- berbincang-bincang ngalor ngidul. Mas Acong sama Mas Widya duduk di depan, saya sama Mbak Ve di belakang.
Kasihan juga sih sebetulnya ngelihat Mbak Ve sama Mas Acong. Mereka kayaknya capeeek banget, hihihi. Maklum, mereka jadi agen travel dadakan. Wira-wiri menjemput tiga puluh peserta ke bandara Adi Sucipto, Stasiun Tugu, Stasiun Lempuyangan, terminal, balik lagi ke Kampus Fiksi, lalu ke bandara lagi, terminal lagi, beuuuuhhhh… *pukpuk Mbak Ve
Oiya, kami mampir dulu ke sebuah toko souvenir, kayaknya Mbak Ve ngambil pesenan gantungan kunci buat para peserta. Asik dah, hihihi. Then, tujuan selanjutnya ke UIN Sunan Kalijaga, menjemput peserta asal Salatiga yang sudah stand by disana.
Bonus nih, saya jadi tahu UIN Sunan Kalijaga, hehe. Sepanjang perjalanan pun, saya sama sekali nggak melewatkan pemandangan di luar.
Rumah Kampus Fiksi
Lokasi yang dipakai untuk pelatihan Kampus Fiksi ini adalah sebuah ruko dua lantai di wilayah Kotagede (katanya sih, saya sendiri nggak paham, hehehe). Di lantai satu ada kamar mandi, dan sebuah ruang yang cukup luas, berAC, lengkap dengan meja kursi warna krem yang masih gres sejumlah banyaknya peserta, disusun melingkar. Ada juga LCD proyektor yang dipakai untuk menyampaikan materi. Di bagian depan, terpampang nyata (halah!) sebuah banner besar bernuansa biru muda bertulis “#KampusFiksi DIVA Press, Membimbingmu Jadi Novelis”. Nyam…
Kayak gini bannernya...
Yuk, lanjut.
Kami naik ke lantai dua. Lantai dua ini area buat istirahat. Ada tiga kamar tidur –dua kamar unttuk peserta cewek dan satu kamar untuk peserta cowok- dan dua kamar mandi. Ada juga  ruang tengah yang cukup luas untuk nonton tipi. Ahaha… Sewaktu kami sampai di atas, sudah ada beberapa peserta lain yang lagi nyantai. Agak malu-malu kucing, kami lewat sambil salam-salaman.
Balkon lantai dua rumah #KampusFiksi
Jalanan depan
Nah, teman sekamar saya ada tujuh orang. First, ada Kak Erika Norfitriah, mahasiswi jurusan Kedokteran Gigi di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Orang Kalimantan asli. Ramah banget ini orangnya. Lucu pula. Apalagi dia sempat nanya, “Di Jawa, penggunaan kata Mas dan Mbak itu gimana sih?” Hehehe.
Ada juga Teh Eka Herdiana Susanto, asal Bandung, lulusan Sastra Inggris-UPI, dan sekarang kerja di ITB. Orangnya unyu gitu deh, masih pantes lah jadi anak SMA, hehehe. Dan lagi, saya seneng banget denger dia ngomong pake logat Sunda, hihihi. Teh Eka ini baik banget lho, dan baru-baru ini novelnya masuk sepuluh besar ‘Lomba Novel Jepang’ Penerbit Diva Press. Kabarnya bulan Juli ini diterbitkan. Kalau nggak salah, judulnya Shukufuku Sa Reka Jinsei. *bagi royaltinya ya, Teh…
Trus, ada Mbak Ratih Ramadyawati dari Depok, mahasiswi jurusan Publishing di Politeknik Negeri Jakarta. Mbak yang ini udah lama mensyen-mensyenan sama saya di Twitter. Jadi waktu ketemu udah langsung akrab, hihihi. Baik juga ini orangnya. Sosok kakak yang baik. *jangan terbang lho, Mbak…
Lalu ada Nadia Zuliaty Syaputri dari Palembang, baru lulus SMA, sama kayak saya. Tapiiii, si Nadia ini, novel perdananya ‘Romano’ udah terbit bulan Mei kemarin lho. *prok-prok* Silakan dicari di toko buku terdekat… *aku bantuin promosi nih, Nad. Hihihi…
Selanjutnya, Odesa Lucky Crisdanari, dari Solo tapi nggak kayak putri Solo, wkwkwk. Odesa ini baru kelas dua SMA –adik kelas saya-, tapi perawakannya tinggi banget. Belakangan saya tahu kalau dia anak basket. O, pantes…
Yang terakhir, Mbak Hanifah Risti Aini, mahasiswi tahun pertama jurusan Pendidikan Agama di UIN Salatiga, yang datengnya barengan sama saya –yang dijemput di UIN Jogja-.
Dinner Pertama
Sambil makan, peserta saling kenalan, dipimpin oleh Pak Manager, namanya Mas Syukur. Guess what, ternyata oh ternyata, istrinya Mas Syukur ini orang Blitar juga! Orang Gandusari! Hahaha... Dunia memang cuma selebar daun kelor. Saya sempat nggak habis pikir betapa Mas Syukur ini dengan tepat menyebutkan wilayah-wilayah di Gandusari.
Ini Mas Syukur...
Ya, jadi ternyata faktanya seperti itu. Wkwkwk… Mas Syukur ini bahkan sempat ngobrol-ngobrol juga sama saya, menyebutkan kemungkinan berkunjung ke rumahnya di Gandusari, nanya-nanya kondisi terkini Gandusari, dan sebagainya, hahaha. Well, mungkin Mas Syukur nggak nyangka ada anak lereng Kelud yang bisa sampai disana juga.
Menu dinnernya apa, saya lupa. Yang jelas, kalau beli semacam itu di warung, nggak tahu dah berapa. Enak pokoknya. Menu yang kalau di rumah biasanya cuma bisa saya nikmati di hari-hari istimewa. We O We, saya nggak bisa bayangin Pak Edi –CEOnya DIVA Press- ngabisin bujet berapa untuk acara ini. Maturtengkyuh nggih, Pak Edi…
Pak @edi_akhiles, CEO DIVA Press Group.
Sehabis makan malam, peserta diperbolehkan istirahat. Ada yang nongkrong-nongkrong di bawah, ada yang ngobrol di kamar, macem-macem lah. Saya santai-santai di kamar sambil baca-baca buku. Yup, di gedung Kampus Fiksi, disediakan lemari berisi banyak novel yang boleh dibaca-baca. Gimana, oke kan?
Diselingi rebutan kipas angin sama teman-teman sekamar, malam itu saya ngabisin beberapa buku (halah!). Ada buku karangannya Pak Edi yang judulnya Rogoh Ah…, trus Catatan Kaki-nya Endik Koeswoyo, novel Pop Corn, dan Rainbow Breeze. Sayangnya dua novel terakhir nggak selesai saya baca karena udah larut malam.
Sabtu, 27 April 2013
Sekitar jam empat pagi, saya bangun dan mendapati Mbak Hanifah sudah selesai mandi! Buru-buru saya keluar untuk antri, karena saya tahu betul kamar mandi cuma ada tiga, dan kalau nggak buru-buru mandi pasti nanti kelabakan.
Benar saja, sampai jam setengah tujuh, masih banyak yang belum mandi. Tapi akhirnya, beberapa peserta diungsikan mandinya ke kantor DIVA. Walah, kalau tahu begitu saya antri belakangan aja, wkwkwk.
Antrian mandinya euy...
Sambil nungguin yang lain, peserta yang udah siap pada nongkrong di depan teve nonton Spongebob sambil ngobrol. Plis deh, nggak di rumah, nggak di Jogja nontonnya Spongebob juga, hahaha.
In the Class…
Setelah sarapan, sekitar jam delapan pagi, acara Kampus Fiksi dimulai. Materi hari pertama fokus pada teknik menulis fiksi, mulai dari pembuka sampai ending. Pematerinya Pak Edi, CEO DIVA Press Group. You know, kabarnya nama beliau masuk ‘Angkatan Sastra 2000’ lho… *prokprok Pak Edi.
Saya duduk di depan, nomor dua dari ujung kanan. Yang duduk sebelah kanan saya namanya Mbak Popy, dari Jakarta Timur. Di sebelah kiri, ada Mbak Maroyah dari Purworejo, Jawa Tengah. Nah, dari awal kenalan sama Mbak Maroyah ini, saya ngerasa udah pernah ketemu sama dia. Tapi kenyataannya emang belum pernah sih. Akhirnya saya pikir itu cuma déjà vu.
Eh, ujung-ujungnya saya baru tau kalo Mbak Maroyah ini, cerbungnya ‘Candi di Kotaraja’ pernah dimuat di majalah Story. Ealaaah, terjawab sudah. Kebetulan saya emang punya majalah Story edisi itu, dan fotonya Mbak Maroyah ada di sana. Well, life is so unpredictable, isn’t it?
Dari kiri ke kanan : Mbak Popy, saya, Mbak Maroyah.
Sekitar jam empat sore, materi diakhiri (siangnya pake ishoma juga sih, hehe). Peserta diminta siap-siap. Siap-siap kemana? Jalan-jalan doooongggg…
Oiya, selama materi, peserta diperbolehkan makan cemilan yang sudah disediakan. Minum juga boleh. Santai banget pokoknya.
Malmingan di Malioboro
Dari rumah Kampus Fiksi, kami diangkut pake sebuah minibus menuju Titik Nol Jogja. Sepanjang perjalanan, semua peserta saling berceloteh. Saya pun nggak ngelewatin kesempatan ini dengan tanya-tanya banyak hal seputar Jogja. Kebetulan, Odesa yang duduk di sebelah saya pengetahuannya luas banget –meskipun dia bukan orang Jogja-. Saya dikasih tahu mana yang namanya Kebun Binatang Gembira Loka, mana arah jalan ke UGM, sampai sekolah pacarnya ditunjukin juga ke saya, hihihi… *baik-baik LDR-nya ya, Des…
Saking banyaknya peserta, akhirnya secara otomatis kami membentuk grup masing-masing. Nah, sesi jalan-jalan ini saya habiskan sama Kak Erika, Teh Eka, Odesa, Mbak Ratih, dan Mbak Maroyah. Kami jalan-jalan menyusuri pertokoan sepanjang Malioboro sampe capek tapi nggak beli apa-apa, wkwkwk. Nggak pa-pa lah ya, seenggaknya saya dapet dua kaos buat adek di rumah.
Karena waktu itu lagi malem Minggu, Malioboro ramenya setengah mati –atau emang tiap hari begitu ya?-. Bahkan untuk berjalan aja perlu perjuangan ekstra. Nggak perlu diceritakan deh serunya seperti apa -saya nggak mau bikin kalian envy-, hehehe. Pokoknya seru banget! Sayangnya foto-foto ada di kameranya Mbak Ratih. Mmm, mungkin lain kali ya bisa saya pos disini.
Rame yak...


Nah, saya nggak keliatan. :(
Minggu, 28 April 2013
Hari kedua –sekaligus hari terakhir, hiks- dibuka dengan materi keredaksian dan marketing. Asik deh pokoknya, kami semua –saya khususnya- akhirnya jadi paham seluk-beluk penerbitan di Indonesia. Mulai dari tema-tema apa yang lagi laris di pasaran, cara mengetahui buku kita terjual berapa, tentang royalti, kapan buku di-retur, sampai nasib sebuah buku jika tidak terjual dalam jangka waktu yang lama –akhirnya diobral limaribu-an-.
Materi marketing oleh Mas Aconk.
Sesi selanjutnya diisi dengan bedah cerpen peserta. Fiuh, rasanya saya adem-panas. Takut jelek lah, takut apa lah, banyak pokoknya. Bayangin aja, masing-masing cerpen peserta ditampilin di layar untuk dikoreksi, di depan puluhan peserta lainnya.
Tapi seru juga sih, ada sensasi tersendiri gitu, hihihi. Apalagi ada beberapa peserta yang cerpennya dikasih komentar superkeren dan dikontrak untuk dijadiin novel. Wow! *congrats
Cerpen saya kebagian dibedah selepas Maghrib. Alhamdulillah ternyata nggak seburuk yang saya takutin, tapi ada insiden yang agak memalukan, wkwkwk. Judul cerpen saya waktu itu ‘nggak banget’ deh pokoknya. Oke, lupakan saja. Mungkin lain kali saya ceritain. *malu-maluin
Sehabis bedah cerpen, saya langsung minta izin untuk packing, karena saya pulang malem itu juga. Sekitar jam tujuh malem, saya diantar ke stasiun –bareng sama peserta lain yang juga mau pulang-. Sebenernya belum pengen pulang sih, tapi mau gimana lagi, tiket yang saya dapet mengharuskan saya pulang malem itu juga.
Aku pulang!
Saya dianter ke stasiun sama Mas Acong dan Mas Agus –kalau gak salah-. Ada juga dua peserta lain yang semobil sama saya, Mbak Titi dan Mbak Ayu –kalau gak salah juga, belum hapal sih-. Tapi, Mbak Titi dianter duluan ke Stasiun Lempuyangan, sedangkan Mbak Ayu dianter pulang ke kosnya di kawasan Kaliurang.
Sekitar jam delapan, saya sampe di stasiun, dianter ke pintu yang sama tempat saya nyariin Mbak Ve dua hari yang lalu. Sambil menggendong ransel berat dan menenteng tas lain berisi baju, saya susah payah menerobos keramaian (halah!). Ransel saya gendong di depan, memastikan apa yang ada di dalamnya aman –laptop dan dompet- sambil mengingat-ingat pesan dua pengantar saya, Mas Acong dan Mas Agus, “Hati-hati lho.”
Meskipun mereka bilang, “Stasiun Tugu relatif aman dari penjahat kok, nggak serawan Lempuyangan.”, tapi tetep aja saya takut. Sampai di ruang tunggu, ada sedikit kursi kosong, dan salah satunya langsung saya duduki. Mengusir jenuh –nunggu kereta yang baru akan berangkat dua jam lagi-, saya akhirnya baca-baca novel, oleh-oleh dari DIVA Press. Lumayan lah buat ngabisin waktu.
Di sebelah saya, ada kakek-nenek yang mau jemput cucunya. Saya ngobrol banyak dan menikmati tatapan kagum dari mereka –anak sekecil saya berani pergi jauh sendirian- hahaha *sombong*. Saya tahu nggak selayaknya ngomong ke orang asing kalau kita baru pertama kali datang ke suatu tempat, akhirnya saya bilang kalau saya udah sering ke Jogja bareng ortu, wkwkwk. *bohong dikit
Setelah kurang lebih setengah jam, saya baru mikir apa yang harus saya lakuin. Harus kemana setelah ini, dimana tempat pengecekan tiket, kereta nanti di jalur berapa, blablabla. Akhirnya sambil (pura-pura) baca, saya mengamati orang-orang yang lewat. Ada beberapa orang bawa koper yang jalan lurus ke arah barat, dan saya ngikutin di belakangnya.
Oleh-oleh dari DIVA Press nih...


Jadi teman perjalanan...



Eh ternyata, tempat pengecekan tiket ada di bagian barat itu, sekitar lima puluh meter dari tempat saya duduk. Saya buru-buru ngeluarin tiket sama KTP, lalu petugas mempersilakan saya masuk ke peron yang nyaman, nggak penuh orang seperti di ruang tunggu. Yah, kalau tau gitu saya udah kesini dari tadi.
Jam sembilan, kereta Malioboro Ekspres udah siap di posisi. Saya naik, meskipun tahu tuh kereta baru berangkat satu jam lagi. Lebih baik begitu daripada saya luntang-luntung di luar, ya kan?
Sepanjang perjalanan dari Jogja menuju Solo, tiga kursi di sekeliling saya kosong *krik-krik. Akhirnya seorang ibu yang tempatnya di seberang, duduk di hadapan saya, nemenin dan ngobrol banyak hal. Tapi sampe Solo, pemilik dua kursi di depan saya naik, dan si ibu yang ramah nan baik itu harus kembali ke tempatnya semula. Di Madiun, kursi samping saya juga terisi.
Setelah itu, sisa perjalanan saya isi dengan begadang karena takut kebablasan, wkwkwk. Tapi saya sempat ketiduran juga sih, mulai dari Nganjuk sampai Kediri.
Waktu hampir sampai Wlingi, saya celingak-celinguk dan mendapati dari sekian banyak orang di gerbong tiga, cuma saya yang bakal turun di Wlingi! Gawat! Saya khawatir nggak bisa buka pintu kereta, mengingat mas-mas petugas nggak ada yang berseliweran sama sekali –mungkin pada tidur-.
Kereta berhenti di Wlingi. Dengan panik saya buru-buru jalan ke arah depan, dan semakin panik lagi karena saya beneran nggak bisa buka pintu antargerbong! Saya noleh ke arah belakang, ada mas dan mbak yang beranjak dari tempat duduknya. Thanks, God, ternyata mereka mau turun juga, pikir saya waktu itu. Saya buru-buru lagi jalan ke belakang, dan si mas bukain pintu bagian selatan. Well, padahal stasiunnya ada di sebelah utara.
Oke, no problem. Yang penting bisa turun.
Saya turun tergesa-gesa. Eh ternyata si mas dan mbak itu nggak turun di Wlingi. Ya sudahlah, tengkyu banget deh buat mereka. Semoga Tuhan membalas amal kalian, I mean it. Thanks again.
Sampai di bawah, saya harus nunggu sekitar dua menit untuk menuju stasiun. Saya milih nunggu kereta berangkat, daripada harus jalan jauh untuk nyeberang rel di belakang gerbong terakhir. Kereta berangkat, dan saya terperanjat. Guess what, ternyata saya memang satu-satunya penumpang Malioboro Ekspres yang turun di Wlingi. Tuh kan?
Setengah jam kemudian –sekitar jam setengah lima pagi- ibu saya sampai di stasiun.
***
Well, kalian semua, yang pengen jadi penulis novel, silakan ikut acara kece ini. Asli seratus persen keren badai! Tapi mungkin pendaftaran baru dibuka lagi tahun depan, karena kuota sampai akhir tahun ini udah penuh.
Sekelumit cerita saya tadi siapa tahu bisa jadi gambaran buat kalian. Mohon maaf kalau ada salah kata, hehehe. Sebetulnya masih banyak part-part seru yang belum saya certain, tapi saya udah capek, wkwkwk. Lain kali mungkin ya…
Finally, terima kasih buanyaaaaaaaaaaaaaakkkk buat semuanya, yang udah ngasih saya kesempatan jadi bagian dari acara tjakep ini. Makasih, Pak Edi, Mas Syukur, Mas Acong, Mas Mukhlis, Mas Agus, para editor –Mbak Ve, Mbak Ita, Mbak Ayun-, teman-teman seangkatan, semuanyaaaaaaaaaaaaaaaaa… Kalian kereeeeennnn!!!!
Ciao!

Komentar

  1. Oh iya, sumber gambar : Google dan Facebook Fanpage Komunitas Kampus Fiksi DIVA Press. :)

    BalasHapus
  2. Wuahaha, tulisannya panjang gila! Tapi asik sih bacanya, jadi bisa sampe abis, :D

    Salam kenal kakak, aku adik angkatanmu di angkatan VI, ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah deh kalo mau baca sampe habis, hehe. Salam kenal juga. Anyway, thanks udah mampir dan selamat menimba ilmu di Jogja ya... Ntar jangan lupa pengalamannya di-share juga, biar kita-kita ini bisa baca. :D

      Hapus
  3. aku aku akuu!!
    mau berangkat akhir maret ini insyaAllah.. :mrgreen:
    eh, kamu sehat kan disana? gimana kabar kelud?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai... :D
      Alhamdulillah saya sehat-sehat aja. Btw, kok tahu kalo saya anak lereng Kelud? Tau dari mana?

      Hapus

Posting Komentar